TENGKORAK BUAT IBU

http://variety.com/2017/film/asia/busan-mouly-surya-marlina-sales-deals-1202588000/

            Alexandra termangu di balik jeruji. Terdiam memandangi halaman lembaga pemasyarakatan yang tak begitu enak untuk dipandang. Debu beterbangan di sana. Hanya beberapa bougenvil tak terawat yang menampilkan pesona hijau. Tak menarik sedikitpun buat Alexa – demikian ia biasa disapa – yang tak pernah suka berjalan-jalan di halaman itu. Hampir lima tahun keberadaannya di tempat ini tetapi ia lebih betah berada di dalam kamarnya walaupun sebenarnya tak layak disebut kamar. Ia tetap suka berada di tempat ini dan sepertinya ia tak ingin pergi dari tempat ini, pergi dari rutinitasnya sebagai seorang narapidana.
            “Alexa...aku ingin berbicara denganmu!” seorang gadis lain muncul mengejutkan Alexa. Alexa tahu kalau gadis ini mencintainya sejak mereka berkenalan dua tahun yang lalu ketika sang gadis menjadi penghuni tempat ini. Akan tetapi Alexa bukan pencinta sesama wanita. Ia masih seorang wanita normal yang mencintai seorang pria walaupun pria adalah makhluk yang paling dibencinya.
            “Ale...”kembali Dian – nama gadis itu – mengejutkannya. Pikiran Alexa sedang melayang jauh entah ke mana. Mungkin memikirkan bagaimana menyadarkan Dian yang terlanjur mencintainya.
            “Masuklah!” ujar Alexa pendek. Dian langsung masuk dan duduk di samping Alexa. Mereka duduk sangat dekat sampai bisa saling mencium aroma tubuh mereka.
            “Ada apa?” tanya Alexa ketika Dian sudah berada di sampingnya, menyandarkan kepalanya pada bahu Alexa. Alexa tak menghindar. Seperti biasa.
            “Ale...aku....aku butuh jawabanmu,” ujar Dian yang sudah kembali duduk tegak sambil memandangi Alexa. Alexa tertunduk.
            “Maksudmu?”
            “Apa kamu mencintaiku?” hening sejenak, “hampir dua tahun kita bersama dan aku sudah begitu merindukan jawabanmu. Aku sangat mencintaimu, Le...”
            Alexa menarik nafas berat.
            “Sebentar lagi masa hukumanmu akan selesai dan aku tak mau kita berpisah. Aku tak ingin kamu meninggalkan aku tanpa kepastian. Aku...”
            “Dian...” Alexa akhirnya bersuara. Dia berdiri lalu memandang ke arah halaman. Nyaris tanpa ekspresi, “aku memang membenci pria. Aku memang muak melihat wajah pria. Mereka menghancurkan masa depanku. Membuat aku menjadi ibu dari bayi yang kemudian mereka bunuh. Tapi...tapi aku juga tak bisa mencintai kamu, Dian. Kamu dan aku sama. Aku menyayangi dan mencintaimu sebagai sahabat. Tidak lebih. Kita sama-sama wanita, Dian. Ingat itu!”
            Alexa tercekat. Ingin menangis tapi ia bingung. Untuk siapakah airmatanya ini?
            “Ja...jadi kamu....tak mencintaiku?” Dia terisak.
            Hening.
            “Aku ingin kita bersahabat. Tidak lebih...”
            Tapi aku mencintaimu, Le...Aku ingin kita hidup bersama...”
            Alexa berbalik dan mengusap airmata Dian.
            “Kamu sahabatku, Dian. Kamu sahabat yang tak akan pernah kulupakan. Kalau tak ada kamu di sini, mungkin aku akan hancur berantakan karena kebencianku pada pria-pria jahanam itu.”
            Dian menepis tangan Alexa dengan kasar. Penuh amarah.
            “Kamu egois, Le. Kamu senang bisa melupakan kehadiran orang-orang yang kamu benci itu dari pikiranmu dengan menjadikan aku sahabatmu. Tapi...tapi, kamu tidak peduli bagaimana tersiksanya aku kalau tak ada kamu. Aku mencintaimu, Le....please!”
            Hening.
            Keduanya saling memandang dalam diam.
            “Besok aku akan pulang, Dy. Aku ingin kamu melupakan cinta yang tak seharusnya ini. Aku ingin kita bersahabat. Aku menyayangimu sebagai sahabat. Ingat Dy, kita sama-sama wanita. Kita tak seharusnya...”dengan kekuatan penuh Dian mendorong Alexa ke dinding lalu hendak meraih bibir Alexa dalam pelukan bibirnya. Alexa memberontak tanpa suara.
            “Aku mencintaimu, Le. Aku mengingikanmu. Aku...” Dian menarik baju Alexa dengan kasar. Alexa hampir telanjang dada. Untung sebuah kutang kumal masih melekat erat di dada Alexa. Dan...”
            “Tolong! Tolong!” Alexa berteriak keras sekali. Dalam sekejap beberapa sipir muncul dan menarik Dian yang mulai kehilangan kendali. Alexa meraih sprai dan langsung menutup dadanya dengan kain itu.
            “Aku mencintaimu, Le!” Dian berteriak keras sambil berontak dari kedua sipir yang menahannya.
            “Kamu sahabatku, Di. Tidak lebih!” Alexa balas berteriak. Ia pun mulai marah. Marah karena dia dicintai sahabatnya sendiri, seorang wanita. Dian diseret dengan kasar meninggalkan ruangan Alexa. Tinggal Alexa dan seorang sipir wanita yang telah dikenal baik Alexa. Dia menuntun Alexa untuk duduk.
            “Kamu tidak apa-apa, Alexa?” tanyanya.
            “Saya baik-baik saja kok, Bu,” ujar Alexa pelan sambil mengangguk, “maafkan kami!”
            “Bukan salahmu, Le. Dian yang perlu dibina lagi. Dia...”
            “Jangan hukum dia, Bu! Semuanya salah saya. Seharusnya sejak awal saya mencoba bergaul dengan dia tanpa terlalu dekat. Saya...”
            Hening.
            “Dia akan kami berikan perhatian khusus. Kondisinya memang tak banyak berubah sejak ditangkap. Dia hanya kelihatan tenang kalau bersamamu. Kami tak menyangka dia menginginkan sesuatu yang tak biasa. Maafkan kami...”
            Alexa termangu. Dia menyayangi Dian, tapi tak pernah ingin hubungan mereka sampai berlebihan.
            “Bu, boleh saya bertanya?” ujar Alexa.
            “Ya, silahkan, Le.”
            “Hm...sebenarnya Dian ditangkap karena kasus apa, Bu? Dia tak pernah mau cerita kalau saya bertanya padanya.”
            “Begini.....Dian membunuh orang yang menghamilinya dan tak mau bertanggung jawab atas anak yang dilahirkannya. Seperti kasusmu, Le,” ujar sang sipir memberikan penjelasan, “hanya saja bayinya masih hidup dan dititipkan pada sebuah panti asuhan sedangkan bayimu sudah tak ada...”
            Alexa hendak berbicara tapi...
            “Kami tak bisa memberitahu mengenai panti asuhan yang menjadi tempat tinggal anak itu...” hening sejenak, “baiklah, saya kembali ke kantor dulu. Anggaplah tak terjadi apa-apa, supaya besok kamu bisa pulang dengan tenang dan senang.”
            “Jaga Dian, ya Bu...” ujar Alexa. Tapi, ia hanya berani berujar dalam hati.

*   *   *   *   *

KEESOKAN HARI...
            Alexa berdiri termangu di bawah sebuah pohon beringin tua yang mungkin telah berumur beberapa puluh tahun. Walaupun siang hari tetapi di bawah pohon ini Alexa merasa seperti berada di suatu senja. Alexa terbayang kembali semua masa lalunya yang kelam dan menyedihkan. Ia ingat akan ibunya yang seharusnya menjadi penjaganya sejak kematian ayahnya melah menjadi penjual anak. Ibunya memaksa Alexa menjadi pemuas nafsu begitu banyak pria kenalannya. Hari-hari yang dilalui hanya hari-hari yang malang. Alexa kemudian hamil tetapi sang ibu tak peduli. Ibunya malah meminta seorang lelaki yang biasa menikmati tubuh Alexa untuk menghabisi bayi yang baru berusia beberapa minggu. Alexa dipaksa lagi menjadi pemuas nafsu para lelaki jahanam itu. Ia tak bisa melawan, tak berani melawan. Akan tetapi bagi Alexa Tuhan memberinya satu kesempatan yang baik ketika dia dipaksa menemani pria yang membunuh bayinya di suatu daerah yang jauh dari rumahnya. Di sanalah Alexa akhirnya membunuh sang pria, memenggal kepalanya, mengbur kepala itu di bawah sebuah pohon beringin lalu menyerahkan diri kepada polisi. Sebenarnya dia bisa saja mendapat keringanan hukuman tetapi karena dia tak mau menunjukkan tempat menguburkan kepala pria itu, ia mendapat hukuman cukup berat.
            Alexa menarik nafas berat. Itu hanya masa lalunya. Sekarang ia telah bebas dan akan memulainya semua kebali dari awal. Oleh karena itu, ia datang lagi ke tempat ini karena ingin mengambil kembali tengkorak pria itu. Alexa menyeka airmatanya yang tak disadarinya telah jatuh lalu dengan sigap mulai menggaruk tanah di sekitar tempat ia berdiri. Persis seperti anjing yang membuat lubang untuk tidur. Alexa tak peduli pada keringat yang mulai mengucur dan pada kesakitan di jari-jarinya. Dan...Alexa berhasil meraih tengkorak itu. Tak ada yang menarik sedikitpun. Dibungkusnya dengan handuk yang biasa dikenakannya di penjara lalu dimasukkannya tengkorak itu ke dalam tas yang dibawanya. Alexa lalu berlari cepat meninggalkan tempat itu. Ia berlari dan terus berlari.  Bahkan sampai tiba di jalan raya ia terus berlari...ia ingin bertemu ibunya.

*   *   *   *   *

            Lima tahun telah berlalu tetapi rumah itu belum berubah. Masih tampak megah di antara bangunan di sekitarnya. Alexa tertegun melihat beberapa petugas kepolisian sedang berada di sana dan...Alexa melangkah pasti. Ketika masuk gerbang ia terkejut karena di halaman rumah yang sempit itu telah penuh dengan manusia. Ada wajah yang masih dikenalnya dan ada wajah baru yang tak dikenalnya. Semua orang memandang heran padanya. Alexa semakin bertanya-tanya dalam hati karena dari dalam rumah ia mendengar suara orang yang sedang meratap. Sepertinya...akh, itu seperti suara Dian. Alexa bergegas dan ia terpaku di pintu ketika melihat Dian sedang menangis, menjerit, meratapi sesosok jenazah. Itu jenazah ibunya. Ia tercekat. Bingung.
            “Al...Alexa...”Dian berujar. Ia hendak berlari menuju Alexa tetapi beberapa sipir menahannya dengan sigap. Dian kembali menjerit-jerit. Seorang menarik Alexa keluar.
            “Ibu...” ternyata yang menariknya adalah sang sipir. Kini mereka berada di pinggir jalan, di luar halaman rumah, dilatarbelakangi jeritan Dian.
            “Ya...ini saya”
            “A...Ada apa ini?” tanya Alexa masih heran.
            Hening.
            “Ibumu meninggal malam tadi,” ujar sang sipir. Alexa tak bereaksi, “kami datang ke sini ingin mengantar Dian supaya bisa melayat Ibumu.”
            “Ma...maksudnya?”
            Alexa masih bingung.
            “Le, Dian juga adalah korban ibumu. Setelah kamu ditangkap ibumu masih mencari gadis lain dan menjadikannya pemuas nafsu para lelaki. Dian hamil dan punya anak lalu dia meminta pertanggungjawaban seorang pria yang lebih banyak dilayaninya. Pria itu tak mau bertanggungjawab sehingga Dian nekat menghabisinya karena ia sakit hati. Kali ini ibumu berbaik hati karena dia mengambil anak itu dan menyerahkannya ke panti asuhan, setelah Dian menyerahkan diri. Itulah sebabnya Dian merasa berhutang budi pada ibumu.”
            Alexa bingung.
            “Maafkan kami, Le. Semuanya kami sembunyikan darimu demi menjaga nama baik ibumu. Kami tidak ingin nama baik isteri seorang mantan pejabat rusak lantaran permasalahan ini. Ayahmu ketika masih hidup adalah orang yang luarbiasa. Jadilah kebohongan demi kebohongan harus diciptakan demi...”
            “Uang?” Alexa memotong cepat, “kalian semua terlalu kejam. Kalian menjual orang yang seharusnya kalian lindungi.”
            Hening.
            “Maafkan kami, Le. Kami...”
            “Sudahlah!” Alexa kesal. “aku mengerti ketidakmampuan kalian ketika berhadapan dengan uang.”
            Alexa menurunkan ranselnya dan dengan kasar menyerahkannya pada sang sipir.
            “Serahkan ini pada jenazah isteri pejabat itu! Saya tak pernah bangga jadi anaknya.”
            Sang sipir bingung.
            “Itu tengkorak pria yang saya bunuh lima tahun lalu, tengkorak yang saya simpan khusus buat seorang ibu yang tega menjual anaknya sendiri. Jangan lupa, sampaikan juga selamat Natal buat dia. Itu kado Natal buatnya...”
            Alexa berlalu.
            Tenang.
            Hatinya lega.
            Dia tersenyum kecil dan berharap besok bisa bertemu dengan Dian. Ia ingin Dian mengetahui semuanya. Akh...seharusnya Dian tak menangisi wanita itu...


Wairklau, 8 September 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUMENEP DAN CERITA KETIKA HUJAN JATUH LAGI (Sebuah Asal Omong)

MATA-MATA MATA MATA

MESTIKAH GEMPA DIKENANG? MESTIKAH TSUNAMI DIINGAT?