SEJENAK MENDOAKAN MEREKA YANG TERLUPAKAN (Sebuah catatan sederhana tentang para ODHA)
___Tulisan ini adalah catatan pengantar dalam tulisan akhir saya saat akan menyelesaikan pendidiann saya di STFK Ledalero_____
HIV
dan AIDS akhir-akhir ini menjadi sebuah persoalan yang sangat serius
dibicarakan dan dibahas oleh banyak kalangan. Orang selalu membiqcarakan
tentang HIV dan AIDS karena berbagai dampak yang muncul menyertai kehidupan
mereka yang terserang virus ini. Virus ini adalah sebuah virus kronis. Dalam
arti ini, pandangan yang menyatakan bahwa virus ini mematikan harus
disingkirkan. Pandangan yang keliru ini kemudian membuat lingkungan sosial tertentu
sering merasa takut ketika berada di dekat orang-orang yang terinfeksi virus
ini.
Ada
banyak sekali faktor yang dapat diuraikan sebagai penyebab perkembangan virus
ini. Perkembangannya yang tak pernah berhenti ini membuat pada situasi tertentu
orang tidak menyadari bahwa dirinya telah terserang. William Chang menulis,
“Para
pengidap virus ini tidak hanya ditemukan di kawasan perkotaan, tetapi sudah
merambah hingga ke daerah-daerah terpencil. Infeksi ini telah menyerang semua
kalangan masyarakat, termasuk penguasa, anggota DPR, kaum berada, pendidik,
anak didik, kaum terpelajar dan yang buta huruf, PSK bersama pelanggannya,
aparat keamanan, pun kaum rohaniwan/wati.”[1]
Meski demikian
satu catatan penting yang mesti diingat adalah bahwa virus tersebut menular
hanya kepada mereka yang memang memiliki perilaku beresiko. Itu berarti bahwa
tidak semua orang bisa terkena virus ini dengan sangat mudah. Berbagai faktor
penularan dan penyebab penularannya akan dibahas lebih lanjut dalam pembahasan
mengenai virus ini. Kenyataan ini menjadi sesuatu yang mengejutkan banyak
kalangan. Diskusi dan pembahasan serta pembicaraan tak pernah mencapai titik
akhir berkenaan dengan virus ini.
Jumlah
Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) [2]terus
meningkat waktu demi waktu. Hal ini memang tak bisa disangkal. Dalam catatan Komisi
Penanggulanan AIDS (KPA) Provinsi Nusa Tenggara Timur[3],
jumlah ODHA sejak 2005 sampai 2015 adalah sekitar 3700 orang. Dari antara
mereka itu, sudah sekitar 1062 orang telah meninggal dunia. Jumlah ini terus
meningkat sampai pada Maret 2016 telah tercatat jumlah kasus HIV dan AIDS
sebanyak 4175 kasus.[4] Jumlah
yang tentu saja sangat besar karena dalam rentang waktu beberapa bulan berjalan
saja jumlah ini sudah bertambah hampir mencapai 500 orang. Jumlah ini boleh
jadi akan terus meningkat karena tidak semua orang yang mau memeriksakan
dirinya meski mereka termasuk dalam kelompok orang-orang beresiko yang mestinya
segera mendapatkan penanganan. HIV dan AIDS di Indonesia sendiri dalam catatan
sejarahnya pertama kali ditemukan pada 1987 di Bali dan sampai dengan Maret
2016 telah tersebar di 407 kabupaten/ kota dari 507 kabupaten/ kota di seluruh
Indonesia. Provinsi terakhir yang melaporkan adanya kasus HIV dan AIDS adalah
provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2012.[5]
Kabupaten
Sikka menjadi salah satu dari sekian banyak wilayah di Indonesia yang telah
menjadi wilayah perkembangan virus ini. Jika pada mulanya virus ini berkembang
pesat karena jumlah perantau yang juga meningkat dan kemudian pulang tanpa
kesadaran bahwa mereka membawa virus tersebut, sekarang virus itu tak perlu
lagi didapat di tanah rantau. Beberapa ODHA yang ditemui[6]
ternyata tidak pernah merantau atau sekedar meninggalkan wilayah Kabupaten
Sikka ini. Kebanyakan memang para lelaki menjadi pembawa virus ini karena
merekalah yang lebih banyak berada di tanah rantau. Namun, sepertinya hal ini
perlahan-lahan mulai tidak berlaku lagi karena para lelaki yang tidak merantau
pun bisa terkena virus ini. Dari 275 ODHA dampingan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS)
yang menjalani ARV, terdapat 59 ODHA yang tidak pernah merantau tetapi
terinfeksi virus ini.[7]
Jumlah
ODHA di kabupaten Sikka juga terus meningkat waktu demi waktu. Tahun 2016 ini
saja, sejak Januari sampai dengan Oktober, ditemukan ada 91 orang yang
dinyatakan positif mengidap HIV[8].
Kalau ditelusur lebih jauh ke belakang sejak 2003 sampai Desember 2015 jumlah
ODHA tercatat 493 orang[9]. Jumlah
ini adalah jumlah yang terdaftar. Ada cukup banyak juga yang tidak terdaftar
dan itulah yang membuat kasus HIV dan AIDS mengkhawatirkan lantaran
bagaimanapun juga perlu ada penanganan terhadap mereka yang telah
terinfeksi. Ini adalah sebuah kenyataan
yang tidak mudah karena meskipun berada pada titik beresiko, orang tetap tidak
akan dengan mudah dapat diajak untuk memeriksakan dirinya.
Kenyataan
jumlah ODHA yang terus meningkat ini tidak dibarengi dengan pemahaman yang baik
dari dunia di sekitar tempat kehidupan para ODHA. Mereka menjadi kelompok yang
disingkirkan dan diabaikan. Ada pandangan yang menyebut bahwa HIV dan AIDS
adalah penyakit hemu (Bahasa Sikka:
Penyakit Buruk) sehingga orang yang mengidapnya harus dijauhkan dari
masyarakat. Persoalan penolakan ini adalah persoalan paling besar yang harus
dihadapi oleh para ODHA. Mereka tidak dapat berbuat banyak terhadap persoalan
ini. Mereka tidak bisa mengembangkan diri mereka di tengah lingkungan yang
mengabaikan dan tidak menganggap mereka sebagai bagian dari lingkungan
tersebut. Kebanyakan orang tidak mengatahui dan tidak mempunyai keinginan untuk
mencari tahu tentang virus ini sehingga tak bisa dipungkiri penolakan terus
terjadi.
Nina
Von Toulon seorang peneliti dari Eco Flores menegaskan dalam sebuah dokumenter
berjudul Trail of HIV-AIDS, “pada
tahun 2012 saya bertemu banyak orang di Flores dari masyarakat,
komunitas-komunitas, LSM lokal, pemerintah daerah dari departemen dan kabupaten
yang berbeda...akan tetapi setiap kali saya bertanya tentang AIDS, orang-orang
hanya akan menatap dengan wajah kosong. Jadi saya berkesimpulan orang-orang di
sini tidak tahu tentang AIDS”. Inilah kenyataan yang terjadi dan kemudian
ketika banyak sosialisasi mulai digalakkan tetap saja kondisi ini tidak banyak
berubah. Penolakan terus terjadi, stigmatisasi tidak berhenti, diskriminasi
tidak pernah hilang, dan kehidupan ODHA tetap di bawah bayang-bayang ketakutan
mereka akan ketahuan dan kemudian dijauhkan dari lingkungan dan pergaulan
mereka.
Berhadapan
dengan kenyataan bahwa semakin hari semakin banyak jumlah ODHA, persoalan
penolakan terhadap mereka juga semakin tak bisa dengan mudah dihentikan. Nafsiah
Mboi mengatakan[10],
“virus HIV tidak mudah menular, cara penularannya terbatas sehingga ia bisa
dicegah meskipun sekali seseorang telah ketularan seumur hidup ia bisa
menularkan.” Catatan ini agaknya mengingatkan agar orang tidak menolak
keberadaan ODHA karena bagaiamanapun juga virus ini tidak dapat menular dengan
mudah. Keadaan menyedihkan ini tidak bisa dengan mudah dihindarkan karena telah
sekian lama orang hidup dalam ketidaktahuan tentang virus ini sehingga meskipun
usaha sosialisasi dilakukan, hasil yang dicapai tetap belum maksimal. Penjelasan
lebih lanjut mengenai virus ini dan penularannya akan dilihat pada
bagian-bagian selanjutnya.
Para
ODHA adalah bagian dari hidup dan kehidupan kita sebagai sebuah masyarakat.
Oleh karena itu, menyingkirkan mereka dari pergaulan adalah sebuah tindakan
yang boleh jadi melanggar hak mereka untuk hidup dan menikmati segala keindahan
hidup ini. Di sinilah mestinya keluarga memegang peranan yang sangat penting.
Betapa tidak, keluarga adalah titik pertama di mana para ODHA juga hidup dan
bertumbuh. Seringkali keluarga mereka justru menjadi titik pertama benih
kebencian itu berkembang. Di sini bisa dikatakan keluarga kehilangan maknanya
karena tidak menganggap seorang yang menderita dalam keluarga tersebut sebagai
bagian yang harus mendapat perhatian yang lebih. Persoalan yang dihadapi para
ODHA ini juga mestinya menjadi persoalan keluarga karena sejauh ini para ODHA
dalam KDS Flores Plus Support adalah mereka yang masih memiliki keluarga.
Para
ODHA adalah mereka yang mestinya mendapat perhatian yang sungguh (pertama-tama)
dari keluarga mereka sendiri. Keluarga yang boleh jadi paling dekat dengan
mereka karena dari sanalah mereka berasal. Keluarga sesungguhnya adalah sebuah
sarana yang paling efektif untuk memanusiakan masyarakat karena di dalam
keluargalah ditemukan persekutuan terkecil di mana orang belajar untuk saling
menghormati martabat masing-masing, dan juga untuk belajar menerima, melayani,
dan kemudian menumbukan solidaritas.[11]
Ketika sebuah keluarga tidak menyadari perannya ini ketika mengetahui bahwa
anggotanya ada yang terinfeksi HIV dan AIDS, lalu kemudian mengabaikan mereka (yang
nota bene berasal dari keluarga),
maka keluarga kehilangan maknanya secara lebih jauh.
Anjuran
Apostolik Amoris Laetitia yang
digagaskan oleh Paus Fransiskus adalah salah sebuah uraian yang cukup kuat
mengajak terciptanya sebuah dunia dengan kehidupan keluarga yang saling
mencintai satu sama lain. Setiap hari mestinya menjadi kesempatan yang baik
bagi keluarga untuk menciptakan damai dan bukan menabur kebencian. Apalagi di
tengah keluarga yang mengalami persoalan lantaran anggotanya ada yang menjadi
penyintas HIV dan AIDS. Ketika diskriminasi menjiwai hidup keluarga maka cinta
kasih dan damai juga tidak akan tercipta di sana. Paus Fransiskus menegaskan,
“My advice is never to let the
day end without making peace in the family. ‘And how am I going to make peace?
By getting down on my knees? No! Just by a small gesture, a little something,
and harmony within your family will be restored. Just a little cares, no words
are necessary. But do not let the day end without making peace in your
family’.”[12] (AL 104).
Ungkapan
di atas menegaskan betapa Gereja sesungguhnya mesti menjadi sebuah kekuatan
perdamaian di tengah keluarga. Perdamaian yang diciptakan bukan dengan paksaan
melalui perang tetapi sebuah perdamaian yang diusahakan dengan cinta. Keluarga
mestinya menjadi sebuah tempat kedamaian dan bukan tempat menabur kebencian
karena ada anggota yang dalam arti tertentu dianggap jatuh dalam sebuah kesalahan. HIV
dan AIDS adalah sebuah persoalan yang kompleks sehingga tidak bisa serta merta
diselesaikan dengan satu jalan sederhana yakni menjauhi mereka yang telah
terpapar virus tersebut.
#Tabe_
#mereka_sahabat_
[1] William
Chang, “Budaya Hidup Sehat; sebuah Tinjauan Bioetis” dalam Jurnal Ledalero, Vol. 14 no. 2, 2015, p. 245. Berdasarkan catatan
tersebut, peneliti sejauh ini belum menemukan adanya kelompok biarawati atau
rohaniwati yang dinyatakan positif HIV dan ditangani pendampingannya oleh KDS
Flores Plus Support. Boleh jadi ada kemungkinan tetapi sampai saat ini memang
belum ada.
[3] http://kupang.tribunnews.com/2016/02/24/hivaids-renggut-1062-nyawa-orang-di-ntt-dalam-10-tahun-terkahir, diakses pada 20 April 2016.
[6] Ketika
mengunjungi Klinik VCT Sehati pada September 2016, peneliti menemukan kasus
yang berbeda pada ODHA yang kebetulan ada di klinik untuk mulai menjalani
terapi ARV. Ternyata ODHA bersangkutan tidak pernah meninggalkan Kabupaten
Sikka dan merantau ke luar daerah seperti halnya kebanyakan kasus HIV dan AIDS
yang terjadi selama ini.
[7]
Rasdiana Rovigis, wawancara 15 Oktober 2016. Para ODHA yang terinfeksi
tanpa pernah merantau ini memang kebanyakan adalah para ibu rumah tangga yang
terinfeksi dari suami mereka yang merantau. Namun, tak bisa disangkal juga
bahwa ada di antara mereka yang tidak pernah merantau tersebut ada yang
terinfeksi karena kebiasaannya pergi ke tempat hiburan malam di kota ini. Ada
juga yang terinfeksi dari kekasihnya yang tidak diketahui dengan pasti dari
mana ia terinfeksi. Perlu penelusuran yang lebih jauh karena persoalan ini
cukup kompleks.
[12]
“Nasehat saya adalah jangan
pernah membiarkan hari berakhir tanpa membuat kedamaian dalam keluarga.
"Dan bagaimana saya bisa mengusahakan kedamaian? Dengan berlutut? Tidak!
Hanya dengan isyarat kecil, sesuatu yang sederhana, dan harmoni dalam
keluargamu akan dipulihkan. Hanya dengan sedikit kepedulian, tidak banyak
berkata-kata. Jangan biarkan hari berakhir tanpa membuat damai di keluargamu
'.” (AL 104).

Komentar
Posting Komentar